Munir''''s slow and painful death began when he transited at Changi Airport, where he took some refreshments. But the lethal plan was hatched in Jakarta. Koleksi Tempo Publishing
### "Key Witness In The Murder of Munir" Buku ini menggali kasus pembunuhan Munir Said Thalib, seorang aktivis hak asasi manusia yang menjadi korban terhebat dalam sejarah Indonesia. Munir meninggal dunia pada 7 September 2004 di Amsterdam, akibat pemberian racun arsenik, yang mengakibatkan kematian perlahan dan menyakitkan. Munir berangkat dari Jakarta dengan Garuda Indonesia flight GA-974 menuju Utrecht, namun kepergiannya diubah menjadi perjalanan terakhir. Penyidikan awal menunjukkan bahwa Pollycarpus Budihari Priyanto, seorang pilot Garuda yang sedang libur, menjadi tersangka utama. Pollycarpus menawarkan tempat duduk di kelas bisnis kepada Munir, yang kemudian menempatkannya di area transit Changi Airport di Singapura. Di Changi Airport, Munir ditemui oleh Pollycarpus, yang menghampirinya dengan tergesa-gesa. Barlend Panjaitan, acting Garuda Station Manager, dan Jamaluddin Mainuddin, seorang Garuda assistant supervisor, menyaksikan peristiwa ini. Pollycarpus kemudian menjaga konsistensi alibinya dengan memakai hotel sebagai tempatnya berlindung selama transit. Selama perjalanan, Munir mulai menunjukkan gejala racun, dan dokter penerbangan Dr. Tarmizi Hakim berusaha mengatasi kondisinya dengan obat-obatan, namun usahanya berlalu sia-sia. Munir meninggal tiga jam sebelum pesawat menurun di Amsterdam. Otonomi di Belanda memastikan bahwa penyebab kematian Munir adalah arsenik. Pada 2022, Pollycarpus dihukum 14 tahun penjara atas kasus pembunuhan Munir. Namun, banyak yang meragukan penyidikan, karena para pelaku utama dan pembuat kebijakan politik yang mungkin bertanggung jawab masih bebas. Kasus Munir menunjukkan adanya skandal yang mendalam di pemerintahan Indonesia, mengindikasikan adanya konspirasi yang lebih besar. Buku ini menawarkan pencerahan yang mendalam tentang kasus Munir, yang tidak hanya mengubah skenario hidup Munir, tetapi juga menunjukkan bagaimana skandal ini mempengaruhi politik dan struktur pemerintahan Indonesia.
Unduh untuk perangkat lain: