He fired his first shot with a rifle as a teenager. His life’s journey included several battles, intelligence operations, undercover work, international diplomacy and high?? level politicking. Who was the real Benny Moerdani, whom the public knew as a man who never smiled?.
Buku "Benny and the Intelligence World" mengisahkan perjalanan hidup dan karier Leonardus Benjamin Moerdani, seorang tokoh militer dan intelijen Indonesia yang signifikan. Buku ini memulai ceritanya dengan pemandangan tragis pada Minggu terakhir Agustus 2004, saat Presiden Suharto menghadiri pemakaman Benny Moerdani, menggambarkan reuni mendalam antara kedua pemimpin setelah bertahun-tahun terpisah. Benny dikenal dengan hubungannya yang erat dengan Suharto, terutama selama pemberontakan Malari pada tahun 1974, di mana Suharto memanggil Benny dari Korea Selatan untuk menstabilkan situasi, menunjukkan kepercayaan Suharto pada kemampuan Benny. Karir Benny juga dipandang dari sudut pandang komandan Angkatan Darat (ABRI), di mana dia memiliki akses unik ke Suharto, sering berfungsi sebagai mediator dalam bidang militer dan politik. Buku ini juga menyentuh topik-topik seperti keterlibatan Benny dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah think tank yang berpengaruh pada era Orde Baru, meski beredar spekulasi tentang aliansi militer-Katolik. Fokus Benny tetap pada stabilitas nasional, bukan kepercayaan agama. Benny juga berperan penting dalam upaya ekonomi di Timor Timur dan usaha bantuan manusia, seperti pembentukan shelter bagi para pengungsi Vietnam di Galang sejak awal tahun 1960-an. Hubungan mereka dimulai pada operasi pengembanan Irian Barat, di mana Benny, sebagai mayor, berperan krusial bersama Suharto, pemimpin Mandala Commandos. Setelah operasi Mandala, Benny dipindahkan ke Kostrad di bawah kepemimpinan Suharto, dimana tugasnya adalah mengakhiri konfrontasi Indonesia dengan Malaysia, yang menjadi titik awal kedalaman terlibatnya dalam tugas intelijen dan diplomatik. Kemampuan Benny dalam menangani situasi kompleks menarik kepercayaan Suharto, yang mengakibatkan promosinya menjadi kepala koordinasi dan kemudian sebagai pembantu diplomat di kedubesan Indonesia di Kuala Lumpur. Dalam 1970, keahlian Benny diuji selama kunjungan Suharto ke Eropa yang menghadapi ancaman dari demonstrasi anti-Amerika dan ancaman dari kelompok-kelompok kiri dan pendukung Republik Maluku Selatan. Pengaturan keamanan yang rapi yang dia lakukan menunjukkan kecerdasan strategisnya, memastikan keamanan Suharto.
Unduh untuk perangkat lain: