Kisah Nabi Yusuf memang menempati posisi istimewa dalam masyarakat Nusantara tempo dulu. Kisah yang bersumber dari Alquran itu tidak hanya didominasi golongan tertentu di Indonesia. Bahkan, khasanah itu seakan-akan menembus batas ruang dan keyakinan. Dalam buku Prof. I Ketut Riana, "Nyanyian Nabi Yusuf" (Surabaya, 2005), terdapat fakta menarik. Buku itu hasil alih aksara dan alih bahasa kisah Nabi Yusuf dalam tradisi pernaskahan Lombok, yang ditulis di bawah pengaruh tradisi Bali dengan aksara Jejawan di atas lontar. Apalagi lontar yang diberi nama Geguritan Nabi Yusuf itu koleksi Balai Bahasa Bali. Disebutkan pula, selain di Balai Bahasa Bali, kisah Nabi Yusuf dalam bentuk tembang tersimpan di beberapa tempat di Bali, salah satunya di Kedong Kirtya, Singaraja.
Unduh untuk perangkat lain: