Buku ini lahir dari satu pengamatan sederhana: di kota-kota panas yang kami kunjungi dari Marrakesh hingga Jaisalmer, dari Penang hingga Kota Lama Semarang bangunan-bangunan tua ternyata lebih sejuk dari pada gedung-gedung modern yang baru dibangun di sebelahnya. Suhu di luar bisa menyengat empat puluh derajat, tetapi begitu kami melangkah masuk melalui pintu rendah sebuah riad, atau menapaki lantai batu sebuah haveli, atau berdiri di bawah air well sebuah shophouse, suhu turun tanpa pendingin udara, tanpa kipas, tanpa listrik. Pengamatan itu tidak unik. Sudah berabad-abad, para penghuni bangunan pusaka di seluruh dunia mengenal kesejukan yang sama. Yang baru dan yang menjadi alasan buku ini ditulis adalah pertanyaan ini: mengapa? Apa logika spasial yang menyatukan riad Maghribi, haveli Rajasthani, shophouse Peranakan, dan bouwstijl kolonial di Semarang? Mengapa empat budaya yang tidak pernah saling bertemu secara langsung sampai pada solusi spasial yang serupa: ruang terbuka di dalam, dikepung oleh massa bangunan, terbuka ke langit? Dan apa yang prinsip itu masih bisa ajarkan kepada kita hari ini, ketika kota-kota memanas dan beban energi pendinginan menjadi krisis tersendiri?
Unduh untuk perangkat lain: