Perjuangan menyelesaikan skripsi menjadi kian berliku ketika Ana harus magang di Sekolah Internasional. Seketika, dunianya berubah dari mahasiswi biasa menjadi pendidik yang harus menaklukkan ruang kelas berisi murid-murid "bule", termasuk Ahmet dengan seribu siasat bolosnya. Langkah kakinya sebagai guru kemudian berlanjut melintasi samudra ke Tanah Melayu hingga kembali ke Tanah Jawara. Ditulis dengan jujur, puitis, dan diselingi humor, Sepotong Kapur menjadi refleksi indah bahwa mengajar adalah seni melapangkan dada karena ada hati yang ikut dituntun untuk bertumbuh. Apakah mengabdi memang seberat itu? Ataukah ini cara semesta mengajari kita arti ketulusan yang sesungguhnya? Sebuah bacaan wajib yang akan mendekap hangat siapa saja yang sedang berdamai dengan proses pendewasaan menjadi guru. Selamat membaca, dan bersiaplah menemukan makna baru.
Unduh untuk perangkat lain: