Buku ini lahir dari kegelisahan intelektual sekaligus kegelisahan moral. Di satu sisi, Indonesia kerap dipotret sebagai bangsa yang religius. Tempat-tempat ibadah berdiri megah, praktik ritual berlangsung semarak, dan simbol-simbol keagamaan hadir dalam hampir setiap ruang sosial dari lingkungan keluarga hingga institusi pemerintahan. Namun di sisi lain, praktik korupsi terus berulang dan tidak jarang melibatkan aktor-aktor yang secara sosial dikenal taat dan aktif dalam kehidupan keagamaan. Kegelisahan ini tidak berhenti pada pertanyaan normatif mengenai moralitas individu, melainkan berkembang menjadi persoalan yang lebih struktural: bagaimana mungkin kesalehan publik dapat berjalan beriringan dengan penyalahgunaan kekuasaan? Apakah religiusitas tidak cukup kuat membentuk integritas? Ataukah relasi antara iman dan kewargaan memang jauh lebih kompleks daripada yang selama ini kita bayangkan? Buku ini tidak dimaksudkan untuk menyederhanakan persoalan ataupun menghakimi kelompok tertentu. Sebaliknya, ia berupaya membaca paradoks tersebut melalui pendekatan multidisipliner menggabungkan etnografi kritis, studi kasus, sosiologi kewarganegaraan, serta teologi publik. Tujuannya bukan semata-mata menjelaskan fenomena, melainkan juga menawarkan kerangka integratif guna membangun religiusitas yang berkontribusi nyata terhadap tata kelola yang bersih dan berkeadilan.
Unduh untuk perangkat lain: