Perkampungan Sosial Pingit sebagai Ruang Keterlibatan Iman – Memulihkan Martabat Kemanusiaan di Pinggiran Zaman Buku "Perkampungan Sosial Pingit sebagai Ruang Keterlibatan Iman: Refleksi Teologis Pendampingan Tunawisma di Perkampungan Sosial Pingit dalam Perspektif Populorum Progressio dan Dekret 4 Kongregasi Jenderal Serikat Jesus ke-32" karya Yohanes Adrianto Dwi Mulyono merupakan sebuah karya teologi praksis yang sangat berbobot, berani, dan kontekstual. Ditulis dengan ketajaman metodologis yang runtut (xxii+215 halaman), buku ini tidak membiarkan teologi mandek sebagai wacana menara gading. Sebaliknya, penulis membawa pembaca turun langsung ke realitas akar rumput—menemui kompleksitas hidup kaum tunawisma di Perkampungan Sosial Pingit (PSP), Yogyakarta—untuk menguji sejauh mana iman kristiani mampu meretas struktur ketidakadilan sosial. Eksplorasi Teologis, Analisis Struktur Sosial, dan Transformasi Pastoral: Iman dan Penegakan Keadilan yang Integral: Dipandu oleh editor Dr. J. B. Heru Prakosa, SJ, buku ini membuka cakrawala historis mengenai bagaimana Gereja dan Serikat Jesus (Jesuit) mentransformasikan karya sosial mereka di era modern. Berpijak kokoh pada visi pembangunan manusia seutuhnya dalam Ensiklik Populorum Progressio karya Paus Paulus VI, serta amanat radikal Dekret 4 Kongregasi Jenderal Serikat Jesus ke-32, penulis menegaskan sebuah kebenaran asasi: bahwa penegakan keadilan bukanlah sekadar "bumbu" atau opsi tambahan dari iman, melainkan syarat mutlak dan bagian integral dari evangelisasi. Menghidupi iman berarti memiliki nyali untuk menginkarnasikan Injil ke dalam sistem sosial yang timpang. Kejujuran Analisis Sosial di Tengah Badai Globalisasi: Melalui skema analisis sosial yang disiplin, riset ini membedah bagaimana arus globalisasi turut mendistorsi perilaku manusia dan melanggengkan pemiskinan struktural. Penulis secara sportif dan jujur memaparkan dinamika di lapangan—mulai dari kondisi awal warga dampingan, proses wawancara mendalam, hingga kenyataan pahit yakni hasil pemberdayaan tunawisma sering kali tidak menggembirakan dan penuh keterbatasan. Evaluasi kritis ini justru menjadi ruang kontemplasi berharga bahwa perjuangan menegakkan martabat manusia adalah sebuah proses pencarian yang harus terus-menerus diperbarui, menuntut kesetiaan tanpa batas, serta penyatuan hati dan budi. Metode Appreciative Inquiry: Membawa Kerajaan Allah Lewat Harapan: Sebagai jalan keluar pastoral yang visioner, buku ini menawarkan dekonstruksi analitis dari model SWOT konvensional menuju pendekatan SOAR (Strengths, Opportunities, Aspirations, Results) melalui metode Appreciative Inquiry. Alih-alih melulu berfokus pada kekurangan dan masalah kaum marginal, pendekatan ini dengan cerdas menggeser paradigma untuk mengeksplorasi potensi, mensyukuri apa yang sudah ada, dan membangun mimpi bersama. Secara teologis, metode ini merupakan perwujudan nyata dari nilai-nilai Kerajaan Allah yang membebaskan, yang memungkinkan kebebasan individu diselaraskan demi kesejahteraan bersama (bonum commune). Kesimpulan: Ajaran Sosial yang Membumi dan Mengubah Puncak dari buku ini adalah seruan bahwa misi hidup sebagai pengikut Kristus sejati selalu diuji dari seberapa jauh kita berani terlibat dan berdialog dengan realitas kemiskinan. Yohanes Adrianto Dwi Mulyono berhasil menghadirkan sebuah potret pastoral yang tidak hanya sarat akan muatan akademis, tetapi juga memiliki kedalaman spiritualitas inkarnatif yang menyentuh hati. Buku "Perkampungan Sosial Pingit sebagai Ruang Keterlibatan Iman" adalah referensi wajib yang sangat langka dan penting bagi para teolog, aktivis kemanusiaan, pekerja sosial, kaum muda, serta para gembala umat. Buku ini menantang kita semua untuk keluar dari zona nyaman, mengubah rasa iba menjadi tindakan nyata yang terstruktur, dan menjadikan setiap ruang marginal di sekitar kita sebagai altar suci perjumpaan dengan Kristus yang hadir dalam diri kaum miskin.
Unduh untuk perangkat lain: