Huria Kristen Indonesia (HKI) berdiri tanggal 1 Mei 1927 dengan nama Hoeria Christen Batak (HChB) dan tanggal 16-17 November 1946, sesuai putusan sinode mentransformasi nama menjadi HKI. Gereja HKI dikenal sebagai Gereja zefstanding (mandiri), jauh sebelum Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, Gereja HKI sudah merdeka dan mandiri dalam menghidupi dan mengkelolah gerejanya sejak tahun 1927. Cita-cita kemandirian Gereja HKI sejak awal mulanya berada dalam tiga aras yaitu kemandirian dana, daya dan teologi, cita-cita kemandirian itu menghasilkan banyak tokoh-tokoh kepemimpinan gerejawi di HKI. Istilah kepemimpinan adalah istilah yang akrab di telinga masyarakat kita, akan tetapi belum tentu semua orang dapat memahami dan memaknai mengenai kepemimpinan tersebut, secara khusus kepemimpinan Kristen. Dewasa ini esensi dan eksistensi kepemimpinan lebih condong dimaknai secara sekular ketimbang secara kekristenan, bahkan di tengah-tengah kehidupan gerejawi. Maka adalah perlu merevitalisasi kepemimpinan Kristen di tengah-tengah kehidupan gerejawi dan mengeksplorasi nilai-nilai kepemimpinan Kristen tersebut di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Buku ini mengulas makna kepemimpinan secara umum dan menurut Alkitab, jabatan dan kepemimpinan. Buku ini juga mengulas model kepemimpinan, kelebihan dan kekurangan dalam kepemimpinan tiga tokoh pemimpin gerejawi di HKI yaitu Pdt. Fredrcik Perdinand Panggabean (Sutan Malu), Pdt. T. Josia Sitorus dan Pdt, Mangradja Hezekiel Manullang (Tuan Manullang). Buku ini juga mengulas sejarah kepemimpinan di HKI dalam perspektif analisa SWOT, rancang-bangun kepemimpinan Kristen, manajemen dan karakter kepemimpinan di HKI, kepemimpinan dan sistem pemerintahan Gereja di HKI, pendeta dan kepemimpinan, kepemimpinan HKI dalam revolusi kemerdekaan di Indonesia serta tradisi teologis kepemimpinan di HKI.
Unduh untuk perangkat lain: