Novel ini menceritakan tentang Nadia, seorang jurnalis yang hidup dalam "neraka" selama tiga tahun akibat trauma masa lalu, la terus-menerus dihantui oleh bayangan tunangannya, Samsudin, yang tewas setelah melompat dari Jembatan Cangar, sebuah jembatan ikonik di Jawa Timur yang diselimuti "kabut misterius". Nadia mengalami insomnia akut dan merasa selalu diawasi oleh sosok pria berjaket hoodie biru yang basah kuyup, dengan wajah pucat pasi dan kebiruan karena kedinginan ekstrem. Kehidupan Nadia mulai berubah saat ia bertemu dengan Ksatria, seorang arsitek yang memiliki kepekaan batin warisan kakeknya. Melalui penglihatan batinnya, Ksatria melihat bahwa Nadia tidak sekadar diikuti arwah penasaran, melainkan ada "kabut hitam pekat yang melilit lehernya. Ksatria menyadari bahwa Jembatan Cangar adalah "titik temu angin lembah di mana tanahnya telah meminum darah yang tidak semestinya, menjadikannya tempat yang mencari celah di hati yang sedang terluka. Perjalanan menuju titik paling gelap di jembatan itu menjadi sebuah konfrontasi di atas jurang. Di tengah "selimut kabut yang bergerak seperti hantu, Ksatria menggunakan kekuatan zikir dan tasbih kayu kokka miliknya untuk melawan residu energi negatif dan para penghuni lembah yang mencoba menyeret Nadia ke dalam kegelapan yang sama. Melalui penemuan sebuah "surat yang tak pernah terkirim, Nadia akhirnya memahami kebenaran yang menyayat hati. Samsudin melompat bukan karena dendam, melainkan karena ia merasa gagal dan menganggap dirinya adalah beban. Pesan terakhirnya bukanlah ajakan untuk mati, melainkan sebuah transformasi jiwa dari kegelapan menuju cahaya; sebuah perintah bagi Nadia untuk "terus melangkah" dan "terus bersinar". Novel ini adalah hasil kontemplasi tentang duka yang tak usai, keikhlasan yang tertunda, dan bagaimana doa serta spiritualitas merijadi benteng terakhir manusia di tengah arus modernitas. Bahwa sejauh apa pun kita melangkah, kita tidak pernah benar-benar sendirian selama ada doa dan ketulusan dalam langkah kita. Dengan demikian, novel ini bukan hanya tersambung melalui cerita masyarakat yang saat ini sedang viral di medsos tersebut, tetapi juga mencoba memberikan resolusi spiritual terhadap ketakutan masyarakat terhadap lembatan Cangar melalui kisah Nadia dan Samsudin.
Unduh untuk perangkat lain: