Di dataran tinggi Dieng, penantian adalah ibadah yang paling sunyi. Dewi Sinta menghabiskan harinya di Telaga Warna, menunggu kepulangan Rama dari medan laga. Namun, istana yang megah perlahan terasa seperti kurungan hampa, sementara rupa jiwa sang ksatria kian asing di benaknya. Di balik kabut Batu Ratapan Angin, Dewi Sinta justru menemukan Gondosuli. Sosok buruk rupa dengan sukma seorang begawan agung. Di sana, di antara tetesan air gua dan wangi melati, kasta dan rupa fisik meluruh, menyisakan pertautan roh yang telah terpisah ratusan abad. Saat kemenangan membawa Rama pulang, ia tak mendapati pelukan seorang istri. Di pelataran Candi Arjuna, melalui cermin genangan air, sang ksatria menyadari kebenaran pahit: cinta sejati tidak dimenangkan dengan pedang atau zirah kencana, melainkan dengan kerelaan untuk menyelami kedalam palung hati yang paling dalam. Akankah cinta tetap memilih raga, atau cukup menjadi legenda yang mekar abadi di setiap kelopak Bunga Gondosuli?
Unduh untuk perangkat lain: