Di era politik modern, kekuasaan tidak lagi terutama ditentukan oleh kualitas kebijakan, tetapi oleh kemampuan membentuk persepsi. Publik tidak sekadar memilih pemimpin mereka memilih citra tentang pemimpin. Citra itu hadir sebagai aura: kesan emosional yang membuat seorang tokoh tampak karismatik, tulus, kuat, atau merakyat, terlepas dari realitas objektifnya. Buku ini membedah bagaimana aura politik dibangun, dipelihara, dimanipulasi, dan pada akhirnya bisa runtuh. Dari teori framing, dramaturgi media, kapital simbolik, hingga algoritma media sosial dan fenomena post-truth, pembaca diajak memahami bahwa kepemimpinan modern adalah pertarungan mengendalikan cara publik melihat realitas. Melalui pendalaman kasus tokoh-tokoh politik Indonesia kontemporer, buku ini menunjukkan bahwa tidak ada aura yang lahir alami semuanya adalah konstruksi sosial yang dikerjakan secara sistematis oleh tim komunikasi, media, buzzer digital, dan ritual kekuasaan.
Unduh untuk perangkat lain: