Dalam lingkaran para pemikir besar itulah, terdapat seorang sahabat sekaligus saksi sejarah: Amidhan. Ia bukan hanya mengenal mereka dari jauh, melainkan hidup bersama dalam satu arus zaman yang sama — berdiskusi, berdebat, bekerja, dan bersahabat. Amidhan turut hadir di berbagai forum intelektual dan gerakan sosial keislaman, dari masa mahasiswa hingga era kematangan intelektual. Ia mengenal pribadi-pribadi besar itu tidak sekadar dari tulisan-tulisan mereka, tetapi dari percakapan seharihari, dari ruang pertemuan kecil, dari perjalanan panjang yang ditempuh bersama dalam semangat pembaruan Islam. Kini, ketika enam sahabatnya telah berpulang, Amidhan menjadi satu-satunya yang masih hidup di antara mereka. Dalam dirinya tersimpan jejak intelektual sekaligus emosi sebuah generasi-generasi yang dengan berani menafsirkan ulang Islam dalam konteks kemanusiaan dan kebangsaan. Karena itu, kesaksiannya menjadi amat berharga. Ia adalah pengingat hidup bahwa pemikiran besar tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan tumbuh dari perjumpaan, dialog, dan persahabatan yang tulus.
Unduh untuk perangkat lain: