Air adalah paradoks abadi peradaban manusia (Gambar 1). Air adalah sumber kehidupan, denyut nadi pertanian, dan penggerak industri. Namun, di sisi lain, air bisa menjelma menjadi kekuatan destruktif yang meluluhlantakkan kehidupan, merenggut harta benda, dan meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Di tengah era perubahan iklim yang kian tak menentu, paradoks ini terasa semakin tajam. Frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi, terutama banjir, menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan, baik di panggung global [1] maupun di halaman belakang kita sendiri,
Unduh untuk perangkat lain: