Hai kamu. lya, kamu. Jujur deh.. Udah muak belum? Muak karena harus menyiapkan jawaban "aman" setiap kali ditanya: "Kapan nikah?" Muak karena harus terus memasang senyum formalitas andalan untuk menutupi rasa lelah yang sebenarnya sudah di ubun-ubun. Aku tahu rasanya berusaha hidup normal, fokus ke karier, dan mencoba nggak panik saat melihat satu per satu teman mulai mengunggah foto pernikahan. Tapi jujur saja, saat malam tiba dan suasana menjadi sunyi, pikiran itu tetap menyelinap dibenakmu: "Ada yang salah ya sama aku? Kenapa aku merasa tertinggal jauh banget? Buku ini aku tulis khusus buat kamu yang sering pura-pura kuat, padahal aslinya seperti sedang kehabisan napas karena merasa berpacu dengan waktu. Buat kamu yang hatinya sibuk meredam cemas akibat tekanan sosial, tapi harus tetap terlihat "oke" di depan semua orang. Lewat buku ini, kita nggak cuma bakal curhat bareng. Aku mau ajak kamu membedah akar rasa sepi dan cemas yang kamu rasakan itu pakai kacamata psikologi dan neurosain, Kita bakal cari tahu kenapa pertanyaan basa-basi itu bisa bikin otak kita merasa "terancam", gimana caranya menyembuhkan luka lama, sampai cara mengelola energi diri supaya kamu bisa menanti dengan tenang tanpa harus kehilangan jati diri. Ingat ya, ini bukan buku panduan cepat mencari jodoh. Bukan juga mantra ajaib biar kamu langsung dilarnar besok pagi. Buku ini adalah teman perjalanan yang bakal menemanimu melewati empat tahap penting: 1) mengakui kalau kamu memang lelah, 2) berani menatap luka lama, 3) menata ulang cara pandangmu soal cinta, 4) sampai akhirnya kamu siap melangkah dengan batin yang lebih sehat. Setelah kamu tutup buku ini nanti, harapanku cuma satu: kamu punya kekuatan dan rasa nyaman yang utuh saat harus menghadapi pertanyaan itu untuk kesekian ratus kalinya tanpa ada lagi rasa nyesek di dada. Sebab, kamu nggak tertinggal. Kamu cuma lagi dipersiapkan.
Unduh untuk perangkat lain: