Sebagai anak yang lahir di pelosok, ia sempat mengalami kesulitan untuk mengenyam pendidikan karena akses yang sangat terbatas. Kesulitan ekonomi sempat membuat kuliahnya di STKIP Makale terhenti dan memaksanya untuk merantau dengan harapan suatu saat bisa menyelesaikan kuliah. Namun, jalan hidup ternyata membuatnya tertanam di tanah rantau, di sebuah desa di Nunukan karena Tuhan menjawab kerinduannya di sana: menjadi seorang guru. Tiadanya rumah dinas mengharuskannya berpindah-pindah tempat tinggal yang tidak layak dari satu ke yang lain. Ia tidak mengeluh dan terus mencari jalan terbaik agar bisa mengabdi sebagai seorang guru di desa yang masih sangat terbelakang itu. Listrik belum ada. Akses terbatas. Gedung sekolah tidak layak. Sarana prasarana terbatas atau bahkan tidak ada. Semua keadaan itu memaksa Zakaria Tulung mencari jalan keluar yang inovatif. Ia hidup membaur dan mengajak masyarakat untuk terlibat, terus mengembangkan diri dan keterampilan. Tak hanya menyelesaikan S-1, ia lanjut ke S-2, bahkan meraih gelar doktor, sesuatu yang sangat langka untuk seorang guru SD. Menekuni profesi guru selama 23 tahun di SDN 002 Lumbis, akhirnya ia diangkat sebagai kepala sekolah di SDN 005 Lumbis. Banyak prestasi diraihnya baik sebagai guru, kepala sekolah, maupun anggota masyarakat. Ia tidak ingin pengalaman pahit di masa kecil yang kesulitan untuk menjalani pendidikan itu masih harus dialami juga oleh anak-anak di pelosok. Pengabdiannya dijalani dengan kesadaran:
Unduh untuk perangkat lain: