Setelah lulus dari Teknik Elektro, Damar akhirnya menerima tawaran pekerjaan di salah satu perusahaan asing. Penugasan perdananya, membawanya jauh dari Jawa, yaitu Jeneponto, Sulawesi Selatan. Wilayah itu memiliki potensi angin terbaik di Indonesia, sekaligus tantangan sosial-budaya yang tak ringan untuknya. Di Tanah Angin ini, Damar memulai hidup baru: tinggal di mes karyawan, menyelami tradisi masyarakat Makassar, menjalani hari-hari di bawah terik pesisir selatan, dan berhadapan dengan pekerjaan kompleks yang mencakup perencanaan teknis, pembebasan lahan, hingga sidang Amdal. Ia belajar bahwa angin tidak hanya menggerakkan turbin, tetapi juga bisa mengguncang hati dan keputusan seorang pemuda. Pertemuannya dengan Indah Maharani, seorang staf administrasi yang berasal dari keluarga Karaeng, membawanya pada persahabatan yang hangat. Namun, ketika Anita Puspadewi datang ke Makassar untuk tugas singkat, masa lalu yang belum tuntas bangkit kembali. Damar terseret ke dalam tarik-menarik perasaan yang halus namun menyakitkan, terlebih saat tanggung jawab proyek terus meningkat.
Unduh untuk perangkat lain: