Indra terbiasa mengalah, pada sakit di tubuhnya sendiri, pada keluarga yang perlahan melepaskan tanggung jawab, dan pada hidup yang tak pernah benar-benar memberinya pilihan. Saat ibunya kehilangan ingatan karena demensia, ia menjadi satu-satunya yang tinggal, merawat, dan bertahan. Hingga sebuah undangan ke acara se-Asia Tenggara membawanya pergi dengan hati yang tertinggal. Namun kepergiannya justru menjadi awal kehilangan terbesar. Di tanah orang, ia bukan hanya kehilangan ibu, tetapi juga rumah dan tempat pulang. Difitnah, diusir, dan dibiarkan sendiri, ia terombang-ambing di antara duka dan kehampaan. Sebab tidak semua orang yang pergi tahu ke mana harus kembali, dan tidak semua keluarga adalah rumah.
Unduh untuk perangkat lain: