Kita hidup di zaman aneh—manusia makin pandai, tapi makin kehilangan arah. Teknologi tumbuh pesat, namun hati terasa kering. Di tengah kekosongan makna itu, Humanisme Samawi hadir sebagai ajakan untuk pulang: kembali kepada kemanusiaan yang bersumber dari langit. Melalui perpaduan tafsir, filsafat, dan refleksi kehidupan, buku ini hadir meluruskan bahwa Islam bukan musuh humanisme, melainkan akar yang menghidupi setiap nilai kemanusiaan—keadilan, kasih sayang, kebebasan, dan tanggung jawab. Buku ini menelusuri jejak kemuliaan manusia sebagai khalifah di bumi, menggugat fanatisme yang membutakan nurani, dan menghidupkan kembali cita-cita Qur’ani: menjadikan iman sebagai kekuatan untuk memanusiakan manusia. Humanisme Samawi bukan sekadar bacaan intelektual—ia adalah cermin bagi jiwa yang lelah mencari makna, sekaligus kompas untuk menemukan kembali cahaya kemanusiaan di tengah gelapnya zaman.
Unduh untuk perangkat lain: