Sejak kecil, aku meyakini bahwa keberadaanku hanya akan diakui jika aku bisa membanggakan orang-orang di sekitarku. Meskipun pada dasarnya, aku menikmati proses belajar dan menjadi peringkat kelas. Mungkin, itulah yang kemudian kusebut sebagai makna hidup menjadi sosok berprestasi yang diakui orang tua dan menjadi contoh bagi adik-adikku. Aku tidak menyalahkan siapa pun, karena aku menikmati proses dan keberhasilannya juga. Terkadang, aku melarang sisi manusiaku, di mana aku tidak ingin kalah, salah, dan harus selalu sempurna. Oleh sebab itu, aku tidak pernah melepaskan topengku dan selalu berpura-pura bahwa semua itu adalah benar-benar keinginanku. Namun, keseimbangan itu mulai goyah saat aku menikah di usia 22 tahun dan tinggal bersama mertua.Dari kejadian itu, aku mulai berani mengambil langkah baru dan kembali memulai sesuatu yang telah lama kulupakan: perkenalan kecil dengan diriku sendiri.
Unduh untuk perangkat lain: