Cinta selalu datang dengan cara yang tak terduga. Kadang, ia hadir seperti angin sepoi-sepoi yang menenangkan, membawa kebahagiaan yang lembut dan hangat. Namun, di lain waktu, ia menyerupai badai—datang begitu cepat, mengguncang segalanya, lalu pergi meninggalkan kehancuran. Rina tahu bagaimana rasanya mencintai dan kehilangan. Ia tahu bagaimana rasanya menggenggam sesuatu dengan erat, hanya untuk melihatnya perlahan-lahan lepas dari genggaman. Dulu, ia percaya bahwa cinta adalah tentang memiliki, tentang bersama, tentang saling melengkapi. Tapi kini, ia tak lagi yakin. Malam itu, di tengah kota Jakarta yang sibuk dan penuh dengan lampu-lampu yang tak pernah padam, Rina duduk di depan jendela apartemennya. Secangkir kopi yang telah dingin tergeletak di meja, sementara pikirannya mengembara ke masa lalu—tentang seseorang yang pernah mengisi hatinya, tentang luka yang masih membekas, dan tentang cinta yang ia anggap tak pernah utuh. Namun, apakah cinta benar-benar harus selalu sempurna? Apakah kasih yang tak dapat dimiliki selamanya adalah kasih yang sia-sia?
Unduh untuk perangkat lain: