Di balik dapur mungilnya, seorang gadis bernama Sari tengah sibuk meracik bumbu. Tangannya lincah mencampurkan kencur, bawang putih, dan cabai ke dalam ulekan, menciptakan campuran khas yang sudah diwariskan turun-temurun di keluarganya. “Ibu, rasanya sudah pas belum?” tanya Sari sambil menyerahkan sesendok kuah seblak kepada ibunya, Bu Rini. Bu Rini mencicipi dengan saksama, lalu tersenyum. “Ini hampir seperti seblak yang dulu dibuat nenek buyutmu. Hanya saja, ada satu hal yang kurang.” Sari mengernyit. “Apa itu, Bu?” “Bumbu rahasia yang hanya ada di resep keluarga kita,” jawab Bu Rini sambil mengusap buku resep tua yang tergeletak di meja. Sari menatap buku itu dengan rasa penasaran. Sejak kecil, ia sudah terbiasa membantu ibunya di warung, tetapi baru kali ini ibunya menyebutkan soal ‘bumbu rahasia’. “Kenapa Ibu baru cerita sekarang?” Bu Rini menghela napas, matanya menerawang. “Karena Ibu ragu. Dunia sekarang sudah berubah, Sari. Orang-orang lebih suka makanan cepat saji, mereka tidak lagi menghargai cita rasa warisan.” Sari menggenggam tangan ibunya. “Kalau kita tidak mempertahankannya, siapa lagi yang akan melakukannya?”
Unduh untuk perangkat lain:
Jadilah yang pertama memberikan ulasan!
Bukunya bagus banget!
Lorem ipsum dolor, sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquam nulla iusto repellat qui, soluta laborum deserunt quis veritatis reprehenderit sint assumenda natus officiis! Nesciunt nisi eius rem dolor placeat consectetur.
Isinya daging semua cuy! Recomended.