Hujan deras mengguyur kota malam itu, membasahi jalan yang sepi dan temaram. Di sudut gang sempit, seorang pria berjalan hitam berjalan tergesa-gesa, bayangannya menjangkau di bawah sorot lampu jalan yang berkelip lemah. Nafasnya berat, tubuhnya gemetar. Ia tahu, seseorang sedang mengikutinya. “Kau pikir bisa lari?”“Aku… aku sudah melakukan apa yang kau minta,” suara pria itu pertama kali bergetar. Pria berpayung itu tersenyum kecil. “Memang. Dan itu sebabnya aku memberimu waktu sejauh ini.” Sebuah suara tembakan menggema di udara. Tubuh pria yang ketakutan itu jatuh dengan mata membelalak. Darah mengalir di antara hujan yang mengguyur trotoar. Pria berpayung itu melangkah pelan, mengeluarkan sapu tangan, dan menghapus bercak darah di wajahnya. Ia berbisik pelan, nyaris seperti doa yang samar tertelan angin malam. “Tak ada yang bisa lepas dari tali restuku.” Dengan langkah ringan, ia berjalan menjauh, meninggalkan tubuh tak bernyawa yang kini hanya menjadi bagian dari bayangan kelam kota ini.
Unduh untuk perangkat lain: