Serpihan-serpihan pilihan menyiksa Libo pada setiap langkah yang paling fantastis. Pilihan berhamburan bagaikan ditiup angin dari timur ke barat. Ia terperosok pada mereka yang membatasi imajinasinya. Bibir mereka penuh kata-kata manis. Perasaannya terkubur histeris dalam tangisan serempak menggema oleh pantulan dinding bukit di kala ia berada di desanya. Menyangsikan semuanya itu, Libo menemukan dirinya di tengah jalan seperti kunang-kunang yang memberikan lampu untuk meniti impian pada dua puluh tahun yang akan datang. Tak pernah sirna, setiap pilihan yang telah dilukiskan di dinding bambu.
Unduh untuk perangkat lain: