Resah yang menumpuk di dada, bingung yang menolak reda. Di tengah jalan, bukan hanya tubuh yang berhenti, tapi juga batin yang bertabrakan dengan kenyataan. Naskah lakon ini bukan sekadar cerita, melainkan cermin yang memantulkan keruwetan manusia modern: tergesa, gelisah, tapi tak tahu harus ke mana. Lakon ini menghadirkan panggung sebagai ruang perenungan, di mana tokoh-tokoh tak selalu punya nama, tapi punya luka dan tanya. Ada absurditas, ada satire, ada kejernihan yang menyamar dalam kekacauan. Bacalah, atau mainkanlah! Maka kau akan tahu bahwa kadang, kemrungsung itu bukan musuh, melainkan petunjuk untuk berhenti sejenak dan bertanya, "Aku ini mau ke mana, sih?"
Unduh untuk perangkat lain: