Berkhidmat di pendakian rohani, ini yang senantiasa dipegang seorang salik untuk menumbuhkan kejernihan di dalam jiwanya. Sebagaimana Imam Al,-Junayd Al-Baghdadi menegaskan,” Ilmu yang paling mulia adalah tasawuf dan orang yang paling hina adalah yang menentang tasawuf.” Dalam buku suluk ini, diajak masuk relung hati yang dalam. Menyelami kedalaman lubuk rasa, menggali mutiara haqiqat-makrifat. Sang salik yang terus saja mendaki, menghela napas syukur, tak berhenti menempa jiwa-rasanya, menumbuhkan pribadi super, matang, tangguh secara rohani. Hati yang terbina, selalu menjumpai kekasih tunggalnya, Allah, s.w.t. Di sini perlunya bersuluk, buat mengikat hati kepada Allah. Puncaknya seorang salik memiliki rasa ber-Tuhan yang kuat. Mencapai maqam Hamba Rabbani, yang sangat dekatnya pada-Nya, atau kalbu yang diliputi ke-Ilahian. Bagaimana akan bisa merasai Al haqiqat, jikalau tidak menempuh jalan tareqat. Dan, untuk masuk menembus ke dalam cakrawala beningnya cahaya makrifat, tentu diperlukan menaiki perahu haqiqat. Sebagai intuisi yang dianugerahkan kepada sang salik, bisa merupakan kunci atau cermin utuh bagi para penempuh, ternukil : Sembunyikan dirimu sedalam-dalamnya,Dalam Rupa-Ku, Dalam Wujud-Ku, Dalam Kehendak-Ku.
Unduh untuk perangkat lain: