Pemerintah sepakat memenuhi kebutuhan garam konsumsi melalui impor. Cuaca yang masih labil mengakibatkan petani garam kesulitan sehingga produksi garam nasional belum pulih
### Buku ini membahas berbagai aspek literasi dan kebijakan impor garam di Indonesia. Di awal, buku ini menjelaskan bagaimana hasil survei literasi bisa menjadi baik atau buruk tergantung pada bagaimana pemerintah meresponsnya. Negara dengan peringkat literasi tinggi seperti Finlandia dianalogikan memiliki kualitas pendidikan terbaik di dunia. Selanjutnya, buku ini membahas program-program yang bertujuan meningkatkan minat baca masyarakat, seperti Duta Baca Indonesia dan GPMB di Yogyakarta. Penulis juga menyentuh perubahan pola baca masyarakat dari media cetak ke digital, dengan fokus pada penggunaan telepon pintar sebagai alat akses bacaan utama di Indonesia. Buku ini juga mendalami undang-undang hak cipta yang relevan, mencakup ketentuan pidana yang diberlakukan untuk pelanggaran hak ekonomi pencipta. Selain itu, buku ini menjelaskan kebijakan impor garam yang diadakan oleh pemerintah Indonesia, yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi melalui impor karena masalah cuaca yang mengganggu produksi garam lokal. Buku ini merupakan upaya untuk memahami dinamika literasi dan kebijakan di Indonesia dari berbagai sisi, baik dari perspektif pendidikan, teknologi, dan hukum.
Unduh untuk perangkat lain: