Setahun setelah Covid-19 merebak di Indonesia, kasus infeksi menembus angka 1,4 juta dan jumlah kematian mencapai 38 ribu jiwa. Indonesia berada di posisi ke-18 dunia dalam hal jumlah korban, jauh melampaui Cina, negeri asal wabah.
### Buku ini berfokus pada upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca dan literasi nasional di Indonesia. Melalui analisis data dari Pusat Data dan Analisa TEMPO, buku ini mengungkap bagaimana perubahan pola bacaan masyarakat dari media cetak ke digital, khususnya melalui smartphone. Pada bagian pertama, buku ini menjelaskan tentang peringkat literasi Indonesia di dunia dan bagaimana pemerintah merespons hasil survei tersebut. Berbagai program seperti GPMB di Yogyakarta dan street library di Bandung menjadi contoh nyata dari upaya-upaya ini. Bagian selanjutnya menggali lebih dalam tentang tren perpindahan media bacaan, dengan fokus pada dominasi telepon pintar sebagai alat akses bacaan utama di Indonesia. Buku ini mengutip data dari Presiden Direktur Ericsons Indonesia, Thomas Jul, yang menunjukkan jumlah pemilik smartphone di Indonesia yang sangat tinggi. Buku ini juga membahas berbagai program yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca masyarakat, termasuk pengiriman buku gratis, gerakan literasi sekolah, dan peningkatan akses bacaan melalui e-book yang dirancang khusus untuk smartphone. Terakhir, buku ini menyentuh aspek hukum terkait hak cipta, memberikan wawasan tentang bagaimana perlindungan hak cipta dapat mempengaruhi distribusi dan pemanfaatan e-book dan konten digital lainnya. Buku ini memberikan gambaran lengkap tentang peran teknologi dalam meningkatkan akses bacaan dan literasi di era digital, serta tantangan yang harus dihadapi dalam proses tersebut.
Unduh untuk perangkat lain: