Di sebuah kamar kecil yang remang, Nadia duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong. Tangannya menggenggam erat selembar foto yang sudah kusam - foto yang seharusnya membawa kebahagiaan, tapi kini hanya menyisakan luka. Nadia menatap wajah di dalam foto itu. senyum hangat yagn dulu memberinya ketenangan kini terasa seperti penghinaan....
### Di balik hujan deras yang menemani malam itu, Nadia memulai perjalanan pengkhianatan yang mengerikan. Melalui bayangan masa lalu yang terpampang di dinding ruang tamu, Nadia kembali mengingat perjalanan cinta dan dendamnya dengan Raka. Foto-foto lama, terutama yang mengabadikan momen mereka bersama, menimbulkan rasa iri dan kecemasan. Ia bertanya pada ibunya, "Raka sudah menikah, Nad," kata Bu Sulastri, yang membuat Nadia merasa hancur. Raka, yang dulu memberinya ketenangan, sekarang telah move on dan memiliki keluarga sendiri. Kilatan petir yang menerangi ruangan seolah menggambarkan kebenaran yang menakutkan. Dengan tangan gemetar, Nadia mencengkeram pistol, menegaskan bahwa semua harus berakhir. Malam itu, ia bersumpah untuk menemukan kebenaran, meski harus mengorbankan segalanya. Ia mengingat rumah lama yang seakan menjadi pengingat dari masa lalu yang telah lepas, dan ketika tiba di depan pintu, perasaan bercampur rasa rindu dan rasa yang pernah ia tinggalkan. Setelah sarapan, Nadia berjalan-jalan di sekitar kota. Dia melewati toko kue yang pernah menjadi tempat mereka berbagi kebahagiaan, dan duduk di bangku taman tempat mereka biasa menghabiskan sore. Di sana, ia berpikir tentang semua kenangan yang telah berlalu, dan kesedihan yang makin mendalam menghampirinya. Dengan matanya berair, Nadia sadar bahwa ia tidak bisa lagi mengelak dari kenyataan yang menakutkan ini.
Unduh untuk perangkat lain: