Bumi, Laut, dan Keselamatan: Refleksi-refleksi Ekoteologi Kontekstual adalah buku yang mengurai hubungan antara alam, manusia dan Allah dari perspektif yang beragam yang ditulis oleh delapan para teolog. Buku ini memperkenalkan bahwa karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus tidak hanya diperuntukkan untuk manusia, tetapi juga oleh semua ciptaan, termasuk hewan dan tumbuhan. Oleh karena itu, buku ini mengajak untuk kita dapat saling membangun kesadaran agar lebih menghargai alam lagi, tidak egois, yang dapat mengakibatkan kerusakan alam itu sendiri. Sehingga dengan adanya hubungan yang baik dengan alam, pengharapan untuk keutuhan hidup agar dapat menggunakan sumber daya alam ini juga tetap ada dan berlanjut.
Buku Bumi, Laut, dan Keselamatan Sebuah Refleksi Ekoteologis Kontekstual Buku ini merupakan hasil kolaborasi dari sejumlah penulis yang tergabung dalam Asosiasi Teologi Indonesia. Dengan menggabungkan perspektif teologi, ekologi, dan sosial, penulis membahas isu-isu penting terkait hubungan antara bumi, laut, dan manusia dalam konteks krisis ekologi dan ekonomi global. Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian utama. Pendahuluan oleh tim penyunting membahas perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan peningkatan eksploitasi alam sebagai dampak dari perilaku konsumerisme dan industrialisasi. Penulis menekankan bahwa ciptaan lain, baik bumi maupun laut, memiliki peran yang tak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam bab pertama, Buce Ranboki membahas "Tangisan Alam, Tangisan Kemiskinan Menyikapi Tren Pembangunan di NTT yang Berdampak terhadap Ekologi dan Ekonomi dari Perspektif Pembebasan." Bab ini mengkritisi cara manusia merespons isu-isu ekologi dan ekonomi di wilayah Nusa Tenggara Timur, menyoroti konsekuensi negatif dari pembangunan infrastruktur yang terlalu cepat tanpa mempertimbangkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keseimbangan alam. Pada bab berikutnya, buku ini mengajak pembaca untuk merenungkan perubahan paradigma dalam teologi, yang seharusnya menjadi semakin ekumenis dan menyentuh seluruh dimensi kemanusiaan. Konsep "bumi adalah rumah bersama" menjadi inti dari refleksi yang mendalam dan kontekstual. Kristus dijadikan model dalam gerakan antisipatif untuk menyelamatkan bumi dari degradasi ekologis. Buku ini juga menggambarkan realitas di wilayah Nusa Tenggara Timur, di mana keindahan alam yang tak terkira menjadi sumber daya ekonomi bagi masyarakat lokal. Namun, penulis menyoroti dampak negatif dari perubahan skala dan intensitas penggunaan sumber daya alam tersebut. Dengan menampilkan berbagai pandangan dan perspektif, buku ini memberikan pemahaman mendalam tentang peran manusia dalam keseimbangan alam dan membangkitkan semangat untuk bertindak antisipatif dalam menghadapi tantangan lingkungan global. Buku ini bertujuan untuk membangkitkan pengharapan dan motivasi bagi semua pihak untuk berperan aktif dalam menjaga dan memelihara keanekaragaman hidup di bumi dan laut, serta memperjuangkan keadilan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Unduh untuk perangkat lain: