Kembali ke rumah masing-masing adalah kembali memasuki diri. Mengetuk dan menyapa ruang-ruang perenungan. Menghirup napas sedalam mungkin sehingga bisa memaknai kesendirian. Zelfeni Wimra—Rentak Kuda Manggani Malam ini seharusnya kami berada di rumah, menyiapkan kado-kado di bawah pendar lampu pohon Natal, bernyanyi, menikmati sukacita serta hidangan yang enak bersama keluarga. Tetapi perang telah membawa kami jauh dari rumah. Adam Yudhistira—Stille Nacht Ia tidak melukaiku, sungguh, tapi aku begitu terluka. Kematiannya bagiku adalah cara Tuhan mengembalikanku ke tempat kami pertama saling menambatkan cinta. Faisal Oddang—Lelaki yang Takut Menyeberang Perkenalan kalian seperti malam yang turun di Ormoc—terjadi begitu saja. Mungkin juga kau tidak terlalu mengharapkannya, seperti hujan renyai yang bersikeras bertahan di kota itu. W.N. Rahman—Sebelum Mencapai Tacloban Di belakang punggungnya, kusaksikan puluhan orang mengikuti kakinya melangkah. Pemimpin agama, para pejabat pemerintahan, polisi, para guru, kaum migran, anak-anak telantar, da
### --- Di kampung adat Namata di desa Raelolo, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, cerita tentang Hiri, seorang anak kecil yang kehilangan kakeknya, mengambil alih. Hiri dan kakeknya, Kale, memiliki hubungan yang sangat dekat. Kakek Kale sering membawanya ke berbagai upacara adat, seperti ritual Bangaliwu yang menandakan simbol perdamaian antara klan, dan Kowa Hole, di mana Hiri bersenang-senang bermain air di pantai. Meskipun sering menangis ketakutan, Hiri tidak pernah menyerah dalam menghadapi kehidupan adat istiadat yang kompleks. Setelah kakeknya pergi, Hiri merindukan bimbingan dan tawa lebar sang kakek, serta aroma tembakau kering yang menguar dari kunyahan kakeknya. Memori-memori tersebut menjadi sumber kehangatan bagi Hiri, yang kini harus menghadapi kehilangan yang mendalam. --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- ---
Unduh untuk perangkat lain: