Di saat seperti ini, aku yang tengah menghadapi ujian kelulusarkelas juga merasa terganggu akan semua peristiwa yang menimpa keluargaku. Namun semua ini di luar perkiraan, aku dan ibu sebagai manusia biasa tak akoan pernah bisa menyangka apa yang akan terjadi di hari esok. Moga Allah seloalu memberi kesabaran dan ketabahan dalam menjalani hidup ini. Bertambah hari adikku bertambah lucu saja, wajahnya yang mungil rambutnya keriting seperti boneka. Sesekali berceloteh seolah ingin mengatakan sesuatu padaku. Kadang aku menggendongnya seolah dia merasa senang ketilka aku gendong. Masih saja aku dengar gunjingan-gunjingan miring tentang ibu dan adikku,setiap aku keluar rumah atau lewat di depan mereka. "Wah, wah, senangnya punya dua anak yang keduanya juga berbeda ayahnya tetapi mereka cantik-cantik," kata seorang dari mereka "Iya, satu Landa (Belanda) satu Arab." "Wah-wah, besok kalau sudah besar pasti deh semuanyalaku keras nih." "Laku keras bagaimana maksudmu?" "Hmm, ya seperti ibunya," jawab seorang dari mereka. Ingin sekali aku menampar mulut penggunjing itu. Tetapi untukapa mereka seolah tak mengerti hukum karma, seandainya peristiwa yang sama dialami oleh keluarga mereka, bahkan dialami oleh anak perempuan merelka, apakah yang akar mereka lakukan. Pastilah sama-sama merasakan hancurnya pperasaan mereka seperti yang aku rasakan bersama ibu. Sebuah kisah apik dari sang penulis. Mengambil latar kota Malaing. Menggambarkan potret kehidupan nyata perjuangan sosok wanita yang juga meenjadi seorang ibu. Menghadapi kehidupan yang keras. Anak-anaknya memiliki cita-cita yang mulia dan tinggi. Bagaimana kisah selanjutnya. Silahkan baca danbeli buku ini!