Ha Neul, seorang remaja laki-laki asal Korea Selatan berkesempatan untuk mengikuti pertukaran pelajar di Indonesia. Ia tumbuh besar dalam lingkungan yang jauh dari agama tiba-tiba tertarik pada Islam setelah mendengarkan azan untuk pertama kalinya di Indonesia. Dia mulai mempelajari Islam secara mendalam. Cerita ini mengikuti perjalanannya sebagai mualaf, bagaimana dia menghadapi tantangan. Namun, pihak keluarganya tidak setuju. Bagaimanakah akhirnya?
### Pertama kali menginjak tanah Indonesia, Ha Neul merasa seperti terjun ke dunia baru. Sebagai bagian dari program pertukaran pelajar tingkat SMA, ia tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan perasaan gugup dan bersemangat. Di sana, ia diterima oleh Pak Rahmat dan keluarganya yang ramah. Kehidupan Ha Neul di Indonesia dimulai dengan perjalanan pertamanya ke Bandung, tempat ia tinggal bersama keluarga angkat. Suara azan yang mengiringi ibadah Magrib menjadi pengalaman menarik dan mendalam bagi Ha Neul, yang jarang melihat orang Korea begitu terbuka dalam praktik keagamaannya. Hari-hari berikutnya, Ha Neul belajar tentang budaya dan makanan Indonesia dari Pak Rahmat. Dia mencoba rendang, sayur asem, dan sambal pedas, merasakan sensasi baru yang unik. Suara azan Magrib yang indah menjadi sorotan utama dalam perjalanannya, mengajak Ha Neul untuk memahami arti sebenarnya dari panggilan ibadah tersebut. Dalam buku ini, Ha Neul mencatat pengalaman-pengalamannya tentang Indonesia. Ia merenungkan perbedaan budaya dan keagamaan antara Korea dan Indonesia, serta bagaimana azan mengubah persepsi dan pemahamannya. Sinonim bagi suatu panggilan untuk beribadah, azan di Bandung bukan hanya bunyi yang terdengar tetapi juga sebuah petunjuk dalam perjalanannya mencari makna dan kebenaran. Sebelum kembali ke Korea, Ha Neul merasa telah mengalami banyak hal baru. Pengalamannya di Indonesia tidak hanya tentang budaya dan makanan, tetapi juga tentang bagaimana suara azan dapat mempengaruhi jiwa seseorang.
Unduh untuk perangkat lain: