novel ini sepenuhnya merupakan karangan yang berasal dari kepala Adia Puja. Fiksi. Tidak benar-benar ada manusia yang memakan tahi (setidaknya sejauh yang saya ketahui), tidak ada pula kampung nelayan bernama Karanggaling, dan tidak ada pula peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam novel ini. Kalaupun ada sedikit sentuhan sejarah, hal itu saya sajikan sebagai pendukung cerita. Tidak lebih.
### Di kampung nelayan Karanggaling, tahi—ampas nutrisi yang keluar dari bokong—merupakan makanan pokok. Bagi penduduknya, tahi lebih berharga daripada emas. Dalam novel ini, penulis mengangkat isu sosial dan budaya melalui sudut pandang seorang jurnalis. Novel ini menceritakan perjalanan kembali penerbitan karya ini dengan judul baru "Tidak Ada Ode bagi Lautan." Isu-isu seperti lautan, sumber daya, dan kehidupan nelayan diangkat sebagai unsur penting. Penulis juga menegaskan bahwa novel ini sebagian besar menggambarkan kehidupan sehari-hari di Karanggaling tanpa terlalu banyak sentuhan sejarah. Novel ini diharapkan dapat menghibur dan menggugah pembaca, menunjukkan bahwa karya seni dapat menjadi letupan energi bagi penulis untuk terus berkarya.
Unduh untuk perangkat lain: