Bercinta sering diartikan sebagai hubungan seks, padahal cinta adalah menaruh kasih sayang. Cinta tidak identik dengan hubungan seks sebab dalam hubungan cinta yang menyatu bukan hanya dua tubuh, melainkan juga dua hati, dua pikiran, dua pribadi, yaitu dua manusia seutuhnya. Cinta pun dianggap kewajiban, padahal cinta adalah berkomitmen, yaitu tidak wajib, namun mengikatkan diri pada seseorang atau sesuatu. Buku Seri Selamat ke-27 ini menapaki lorong di mana cinta justru diper-lukan, yaitu saat kita ditolak, diabaikan, dan dilukai. Atau, saat kita mem-biarkan diri dikemudian oleh benci dan dengki. Atau, saat kita lupa bahwa Allah ingin bercinta.
### Buku Seri Selamat ke-27, "Selamat Bercinta," ditulis oleh Andar Ismail, mengajak kita semua untuk memahami arti cinta yang lebih dalam dari sekedar hubungan seksual. Buku ini tidak hanya berisi pengertian cinta sebagai komitmen, namun juga mengajak kita untuk mengembangkan komitmen cinta dalam berbagai situasi kehidupan, termasuk ketika kita ditolak, diabaikan, atau dilukai. Penulis mengajarkan bahwa cinta bukanlah kewajiban, melainkan pilihan untuk berkomitmen. Melalui analogi dari Alkitab, penulis menjelaskan tentang cinta Allah yang mencintai umat manusia, mirip dengan peternak yang mencari kembali seekor domba yang hilang. Penulis menggarisbawahi bahwa agape, cinta rohani, adalah cinta yang suci dan mengajak kita untuk mencintai Allah dan sesama dengan komitmen yang tulus. Buku ini juga memaparkan tentang konsep eros, cinta jasmani, yang sering diartikan sebagai dorongan seksual, dan menegaskan bahwa eros tidak berkaitan dengan agape. Penulis menyampaikan bahwa cinta adalah perbuatan, bukan hanya perasaan, dan kita perlu belajar berkomitmen cinta sebagai prasyarat kesinambungan ikatan-ikatan dalam kehidupan. Komitmen cinta memang susah, namun dengan narasumber yang tepat—Kristus—kita dapat memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selamat bercinta, bukan hanya dalam arti literal, namun dalam arti penuh makna dan komitmen.
Unduh untuk perangkat lain: